Metronidazole: Kegunaan, Aturan Pakai, dan Efek Samping

Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-tidak-sehat-sakit-flu-4031634/

Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal. Merupakan makhluk hidup terkecil di bumi, bakteri bisa ditemukan di mana pun baik tanah, air, hingga dalam tubuh manusia.

Ada dua jenis bakteri menurut sifatnya yaitu, bakteri baik dan bakteri jahat. Bakteri jahat seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (penyebab infeksi telinga), juga Neisseria gonorrhoeae (penyebab infeksi kelamin gonore) perlu Anda waspadai penularannya.

Bacaan Lainnya

Infeksi bakteri jahat bisa terjadi dari mana pun seperti hubungan seks tanpa kondom, maupun kebersihan diri dan lingkungan yang kurang terjaga. Anda bisa melakukan konsultasi dokter online jika mengalami gejala infeksi bakteri jahat untuk mendapat saran perawatan yang tepat.

Biasanya, dokter akan memberikan metronidazole untuk pasien yang terkena infeksi bakteri. Namun, obat tersebut merupakan golongan obat keras yang termasuk kategori C untuk ibu hamil (trimester 1) dan kategori B (trimester 2 dan 3), sehingga pemakaiannya harus berasal dari petunjuk dokter.

Kegunaan Metronidazole

Metronidazole adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri dan parasite dalam tubuh. Obat ini masuk dalam kelas obat antimikroba nitromidazole dan tidak ditujukan untuk membantu menyembuhkan penyakit akibat infeksi virus dan jamur, seperti pilek atau flu biasa.

Obat metronidazole kerap dimanfaatkan dalam pengobatan infeksi bakteri yang menyerang vagina, kulit, persendian, hati, perut, otak, sumsum tulang belakang, jantung, paru-paru, atau aliran darah. Dokter tidak jarang juga memberikan resep metronidazole bagi pasien trikomoniasis, pasien penyakit menular seksual (PMS), infeksi gigi akut, dan infeksi H.Pylori.

Pada pengobatan PMS yang disebabkan oleh parasit, biasanya kedua pasangan akan dirawat bersamaan. Meskipun, salah satu di antaranya tidak menunjukkan gejala PMS.

Metronidazole untuk tablet juga tersedia dengan merek dagang Fladex, Flapozil, Omenizol, Tromezol, Intranidasal, dan Grafazol. Sementara merek dagang metronidazole infus di antaranya Progyl, Metronidazole Fresenius, Quatrosis, dan Metroles.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Metronidazole

Sebagai salah satu obat keras, metronidazole tidak boleh digunakan dengan resep sembarangan. Karena itu, Anda perlu berdiskusi terlebih dahulu mengenai kondisi kesehatan dan riwayat penyakit sebelum menggunakan metronidazole.

Pastikan Anda memperhatikan beberapa hal berikut sebelum mengonsumsi metronidazole, di antaranya:

  • Beritahu dokter jika Anda mengidap alergi pada metronidazole, tinidazole, secnidazole, atau obat lain yang masih satu bahan dalam sediaan metronidazole.
  • Beritahu dokter jika Anda tengah mengonsumsi disulfiram, yaitu obat untuk mengatasi kecandual alkohol.
  • Anda juga perlu memberitahu dokter mengenai obat-obatan resep dan nonresep lainnya seperti obat antikoagulan, warfarin, cimetidine, fenobarbital, dan fenitoin. Jenis vitamin dan suplemen nutrisi yang mungkin sedang Anda konsumsi pun perlu disampaikan kepada dokter.
  • Beritahu dokter jika Anda tengah menderita penyakit Crohn, penyakit hati dan ginjal, atau penyakit darah.
  • Beritahu dokter jika Anda sering mengonsumsi alcohol atau mengalami kecanduan alkohol.
  • Beritahu dokter jika Anda tengah menjalani rencana kehamilan, sedang hamil, atau menyusui. Sebab, kandungan metronidazole bisa terserap ke dalam ASI dan mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam kandungan.

Dosis dan Aturan Pakai Metronidazole

Metronidazole tersedia dalam beberapa bentuk yaitu tablet, sirup, kaplet, infus, suppositoria, dan ovula.

Untuk pemberian metronidazole infus haruslah dengan pengawasan dokter atau tenaga medis. Sementara bentuk suppositoria perlu dicelupkan ke dalam air, dimasukkan ke dalam dubur, lalu posisikan badan tiduran atau duduk diam selama 15 menit.

Dosis dan aturan pakai metronidazole disesuaikan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien, berat badan, dan tingkat keparahan infeksi. Secara umum, berikut adalah dosis dan aturan pakai metronidazole berdasarkan tujuan pengobatan dan bentuk sediaan, yaitu:

1. Metronidazole Tablet dan Suspensi

  • Pengobatan giardiasis
    Dewasa: selama 3 hari berikan sebanyak 2 gram/hari, atau 3 kali sehari sebanyak 400 mg selama 5 hari, atau 3 kali sehari sebanyak 500 mg selama 7-10 hari.
    Anak usia 1-3 tahun: berikan 50 mg untuk sehari sekali selama 3 hari.
    Anak usia >3-7 tahun: berikan 600-800 mg untuk sehari sekali selama 3 hari.
  • Pengobatan H.Pylori terkait penyakit ulkus peptikum
    Dewasa: berikan 400 mg untuk 2 kali sehari selama 7-14 hari yang bisa dikombinasikan dengan antibakteri lain dan PPI. Atau berikan 400 mg untuk 3 kali sehari jika diberikan bersama omeprazole dan amoksisilin.
    Anak-anak: berikan 20 mg/kgBB per hari, dosis terbargi selama 7-14 hari dan bisa dikombinasikan dengan antibakteri lain dan PPI. Pemberian maksimal yaitu 500 mg untuk 2 kali sehari.

2. Metronidazole Infus 500 mg/100 ml

  • Pengobatan giardiasis
    Dewasa: berikan 15 mg/kgBB hingga 4 g/kgBB per hari sebagai dosis awal. Pemberian infus bisa dilakukan selama lebih dari 1 jam, per 6 jam sekali, selama 7-10 hari atau 2-3 minggu tergantung kondisi infeksi. Dosis lanjutan 7.5 mg/kgBB.
  • Pengobatan trikomoniasis
  • Anak-anak <45 kg: berikan 15 mg/kgBB per untuk pembagian dosis setiap 8 jam sekali selama 7 hari.

3. Metronidazole suppositoria

  • Infeksi bakteri
    Dewasa:
    berikan setiap 8 jam sebanyak 1 g, selama 3 hari. Pemakaian bisa dikurangi menjadi setiap 12 jam, selama lebih dari 3 hari.
    Anak <1 tahun: berikan 125 mg.
    Anak usia 1-5 tahun: berikan 250 mg.
    Anak usia 5-10 tahun: berikan 500 mg.

Efek Samping Metronidazole

Efek samping umum bisa muncul saat Anda menjalani pengobatan menggunakan metronidazole, di antaranya:

  • Sakit kepala
  • Nafsu makan menurun
  • Diare
  • Mual atau muntah
  • Maag
  • Sembelit
  • Kram di area perut

Efek samping umum bisa hilang dalam beberapa hari. Namun, jika Anda mengalami efek samping serius, segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan tepat.

  • Kejang-kejang
  • Kebingunan
  • Ataksia atau kehilangan control Gerakan tubuh

Baca Juga: Ini Tinggi Badan Anak yang Ideal dan Cara Mengoptimalkannya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *