5 Kelemahan Usaha Gorengan, Pebisnis Kuliner Wajib Waspada

Kelemahan Usaha Gorengan
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/makanan-sehat-makan-malam-makan-siang-3967347/

Kelemahan usaha gorengan, pernahkah memikirkannya ketika ingin membuka usaha kuliner yang memperdagangkan risoles, tahu goreng, dan goreng-gorengan lainnya? Sebagai pengusaha, seharusnya Anda paham bahwa tiap bisnis ada resikonya. Akan tetapi kita wajib menganalisis apa saja kelemahan dari berdagang gorengan, sehingga bisa meminimilasirnya.

Kelemahan Usaha Gorengan, Sudah Tahu Belum?

Kelemahan Usaha Gorengan
Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/kayu-pasangan-orang-orang-wanita-6963017/

Apakah Anda ingin mencoba memulai usaha gorengan atau sudah menjalankannya? Apakah Anda sudah siap dengan modal serta ilmunya? Lalu apakah Anda sudah siap juga dengan resikonya? Berikut ini beberapa minus dari bisnis gorengan:

Bacaan Lainnya

1. Harga Minyak Goreng yang Terus Meroket

Akhir-akhir ini harga minyak goreng naik drastis, di minimarket yang biasanya menjual minyak kemasan 2 liter dengan harga 33.000-35.000 kini nyaris mencapai 40.000 rupiah. Meroketnya harga minyak ini tentu membuat Anda pusing karena bisa menyebabkan biaya produksi juga naik. Mau tak mau harga jual gorengan juga harus dinaikkan agar tidak merugi.

Kelemahan usaha gorengan yang ini memang membuat Anda berpikir panjang agar bisa survive. Akan tetapi, jangan nekat dengan mengganti minyak goreng dengan yang curah atau yang bekas gorengan ayam (yang biasanya didapatkan dari restoran). Meski harganya jauh lebih murah tetapi kualitasnya menurun. Jangan pertaruhkan nama besar usaha dengan mengurangi kualitas minyak karena nanti hasil gorengan kurang bagus, dan akhirnya pembeli jadi kabur.

2. Dagangan Tersisa Banyak

Resiko dari berjualan makanan adalah ketika dagangan kurang laku, bisa jadi karena hari hujan, tanggal tua, atau memang rezekinya memang hanya segitu. Bagaimana jika dagangan masih tersisa banyak, bahkan lebih dari separuh stok? Jangan menangis dulu karena minimal ada gorengan yang terjual pada hari itu.

Kelemahan usaha gorengan ini memang menjadi resiko berjualan makanan, tak hanya bisnis gorengan. Untuk meminimalisir resiko ini maka jangan banyak-banyak menggoreng tahu, tempe, dan lain-lain. Goreng secukupnya saja dan perkirakan sehari laku berapa. Namun jika masih tersisa, jangan digoreng ulang pada keesokan harinya karena rasanya tidak enak. Bawa saja pulang dan saat masih banyak bagi-bagikan pada tetangga, hitung-hitung sedekah.

3. Saingan Bisnis yang Serupa

Anda baru berjualan gorengan selama 1 bulan tetapi ada gerobak lain yang juga menjual pisang goreng, bahkan posisinya persis berseberangan. Saingan bisnis adalah salah satu resiko dalam berdagang. Akan tetapi yakinlah bahwa rezeki yang diberikan oleh-Nya tidak akan tertukar dengan sendirinya, karena jika sudah langganan maka pembeli akan tetap menyukai gorengan Anda. Asal dengan syarat mempertahankan kualitas dan rasa dari makanan yang tersaji.

4. Bahan Makanan Tak Tahan dalam Waktu Lama

Kelemahan usaha gorengan yang selanjutnya adalah bahan makanan yang digunakan seperti tempe, tahu, sayuran untuk bala-bala (bakwan/weci) tidak tahan lama. Saat nyaris tengah malam tetapi gorengan masih banyak, sementara bahan mentahnya juga masih ada. Semua tidak tahan lama dan tidak bisa masuk kulkas karena rasanya akan tak enak, sehingga mau tak mau harus dibuang begitu saja.

Baca Juga: Peluang Usaha Jualan Gorengan Bisa Untung Besar

5. Keuntungannya Sedikit

Saat berjualan makanan, rata-rata pedagang mengambil untung 100%, misalnya 1 tahu isi berbalut adonan terigu yang digoreng garing dijual dengan harga 2.000 dan keuntungannya 1.000 rupiah. Akan tetapi jika banyak gorengan yang tidak laku maka akan mengurangi keuntungan sehingga profit tidak mencukupi. Tetaplah sabar dan berharap esok dagangan akan laku lebih banyak.

Kelemahan usaha gorengan ada bermacam-macam, mulai dari kesegaran bahan baku yang tak tahan lama, keuntungannya yang makin mengerucut, sampai ke persaingan bisnis. Walau ada potensi kerugian dalam berbisnis kuliner jenis ini tetapi Anda tidak akan menyerah. Tetaplah semangat dan membuat inovasi, misalnya bekerja sama dengan aplikasi pemesanan makanan, sehingga pembeli akan lebih banyak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *